LOMBOK BARAT, PINTAS.CO.ID – Anggota DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid, menghadiri kegiatan penyambutan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang digelar masyarakat bersama para pemuda Desa Midang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (7/6/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam tradisi budaya bertajuk “Begawe Beleq Kawule Midang” tersebut berlangsung meriah dan penuh nuansa religius.
Acara dibuka dengan pemukulan gendang beleq oleh Fauzan Khalid, disusul penampilan tarian gendang beleq yang dibawakan masyarakat setempat.
Gendang Beleq merupakan kesenian tradisional khas Suku Sasak yang memadukan unsur tarian dan musik orkestra sakral.
Nama “beleq” dalam bahasa Sasak berarti besar, merujuk pada ukuran gendang utama yang menjadi instrumen khas dalam pertunjukan tersebut.
Dalam sambutannya, Fauzan Khalid menyampaikan apresiasi atas inisiatif masyarakat dan generasi muda Desa Midang yang tetap menjaga tradisi sekaligus menyemarakkan peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang jatuh pada 16 Juni 2026.
Menurut anggota Komisi II DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) NTB II/Pulau Lombok tersebut, peringatan 1 Muharram memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pergantian tahun dalam kalender Islam.
“Tradisi ini bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga menjadi sarana refleksi diri, mempererat silaturahmi, dan memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Fauzan Khalid.
Mantan Bupati Lombok Barat dua periode (2016-2024) itu menjelaskan bahwa 1 Muharram menandai peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi, yang menjadi tonggak penting dalam sejarah peradaban Islam.
“Secara spiritual, momen ini mengajak kita untuk melakukan muhasabah, berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik, serta menumbuhkan harapan baru untuk meningkatkan kualitas ibadah,” katanya.
Fauzan Khalid memaparkan, setidaknya terdapat tiga makna utama yang terkandung dalam peringatan Tahun Baru Islam.
Pertama, sebagai tonggak sejarah Islam. Kalender Hijriah ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab melalui musyawarah dengan para sahabat.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dipilih sebagai awal penanggalan karena menjadi titik balik kebangkitan umat Islam.
Kedua, Muharram merupakan salah satu dari empat bulan suci yang dimuliakan dalam Islam. Pada bulan ini, umat Muslim dianjurkan memperbanyak amal ibadah karena memiliki keutamaan yang besar.
Ketiga, semangat hijrah yang mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan keburukan menuju kebaikan, serta meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Fauzan Khalid menegaskan, Tahun Baru Islam 1448 Hijriah harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan transformasi diri, memperbaiki kualitas ibadah, dan memperkuat kepedulian sosial.
“Satu (1) Muharram 1448 Hijriah adalah momentum penting bagi kita untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, memperkuat evaluasi diri, meningkatkan kepedulian sosial, serta menjadikannya sebagai titik awal menyusun resolusi hidup yang lebih bermakna,” tegas mantan Ketua KPU NTB (2008-2013) tersebut.
Melalui kegiatan ”Begawe Beleq Kawule Midang”, semangat kebersamaan, pelestarian budaya lokal, dan nilai-nilai keislaman diharapkan terus terjaga serta menjadi inspirasi bagi generasi muda di Lombok Barat.(P01)






