MATARAM, PINTAS.CO.ID – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mencatat pertumbuhan sebesar 13,24 persen, tertinggi kedua secara nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Anindya saat melantik dan mengukuhkan Pengurus KADIN Provinsi NTB periode 2025–2030, di Prime Park Hotel, Mataram, Rabu (29/7/2026).

Menurut Anindya, lonjakan pertumbuhan ekonomi NTB menunjukkan bahwa daerah ini tengah berada pada jalur pembangunan yang sehat, berkelanjutan, dan semakin menarik di mata pelaku usaha maupun investor.

“Kami melihat pertumbuhan di NTB sangat menarik dan sustainable, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Selain ditopang industri pengolahan, sektor pariwisata dan agribisnis beserta turunannya juga berkembang sangat baik,” ujar Anindya.

Ia menilai, keberhasilan NTB tidak hanya ditopang sektor hilirisasi industri, tetapi juga didukung oleh penguatan sektor-sektor produktif yang memiliki nilai tambah tinggi.

Salah satu potensi yang menjadi perhatian KADIN Indonesia adalah industri garam NTB. Menurut Anindya, garam lokal memiliki tingkat kemurnian hingga 98 persen, kualitas yang dinilai mampu bersaing dengan negara produsen utama seperti Australia.

Selain itu, ia mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB yang mulai mengembangkan pariwisata niaga (business tourism), wellness tourism, hingga membangun konektivitas destinasi wisata bersama Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Pak Gubernur memiliki fokus pada segmentasi pasar yang jelas. Saya rasa ini strategi yang cerdas untuk membedakan NTB dengan daerah lain,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Anindya memastikan KADIN Indonesia siap membantu memperkenalkan berbagai peluang investasi NTB kepada dunia internasional melalui forum pertemuan rutin dengan puluhan duta besar dari berbagai negara.

“Kami siap mempromosikan potensi NTB kepada para mitra internasional melalui pertemuan-pertemuan yang kami lakukan secara rutin,” ujarnya.

Anindya juga menyoroti sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan tren sangat positif di NTB.

Ia menyebut tiga mesin pertumbuhan ekonomi daerah, yakni pariwisata, ekonomi biru, dan perdagangan, terus menunjukkan kinerja yang menggembirakan.

Selain itu, ekspor NTB mengalami peningkatan hingga 76,64 juta dolar AS, sementara sektor industri pengolahan tumbuh mencapai 60,25 persen.

“Kita melihat industri pengolahan tumbuh 60,25 persen. Ini bukan sesuatu yang mudah dicapai. Mesin pertumbuhan NTB seperti smelter, sport tourism, pariwisata, dan UMKM mampu memanfaatkan berbagai peluang yang ada,” ungkapnya.

Meski kondisi perdagangan global masih dibayangi ketidakpastian, Anindya meyakini KADIN NTB memiliki peran strategis dalam meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modal di daerah.

Ia juga menyoroti tingginya aktivitas ekonomi digital di NTB, termasuk dampak ekonomi kawasan Mandalika yang turut mendorong transaksi QRIS hingga mencapai sekitar Rp1,4 triliun.

Sementara itu, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya melalui penguatan ekonomi kerakyatan.

Menurutnya, capaian indikator makro memang menunjukkan tren positif, namun NTB tidak boleh bergantung terlalu lama pada sektor pertambangan maupun industri pemurnian mineral.

“Kita harus pelan-pelan tidak bergantung penuh pada industri smelter. Hampir 40 persen masyarakat NTB hidup dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) kita saat ini mencapai 131, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Ini menunjukkan peningkatan nyata di tingkat masyarakat,” kata Gubernur Iqbal.

Karena itu, ia mengajak jajaran KADIN NTB untuk memperkuat investasi di sektor pangan, pertanian, hingga industri garam yang dinilai memiliki prospek besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Pemprov NTB, lanjutnya, siap memberikan dukungan dan kepastian bagi dunia usaha yang ingin mengembangkan sektor-sektor produktif tersebut.

“Dalam setiap gejolak ekonomi, yang paling dibutuhkan pelaku usaha adalah kepastian. KADIN NTB harus mampu meyakinkan investor bahwa NTB merupakan daerah yang aman, kondusif, dan sangat prospektif untuk berinvestasi,” tegas Gubernur Iqbal.

Pelantikan Pengurus KADIN NTB periode 2025–2030 diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam mempercepat investasi, memperluas lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di NTB.(P03)