MATARAM, PINTAS.CO.ID – Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) memperkuat kolaborasi untuk membangun ekosistem perikanan modern yang lebih bersih, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan.

Kawasan Kuliner dan Pasar Ikan Modern atau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Bintaro kini dipersiapkan menjadi percontohan nasional pasar ikan modern berbasis zero waste.

Komitmen tersebut ditegaskan saat Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono melakukan kunjungan kerja ke Lombok, Provinsi Nusa Tenggar Barat (NTB), pada Jumat (17/7/2026), didampingi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Indah Dhamayanti Putri.

Sebelum menggelar rapat koordinasi, rombongan meninjau pembangunan KNMP Bintaro Tahap II yang telah rampung 100 persen. Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok.

Dalam rapat bersama jajaran perangkat daerah, pemerintah membahas strategi besar pengembangan kawasan, mulai dari penguatan hilirisasi hasil perikanan, pembentukan koperasi sebagai pengelola aktivitas ekonomi nelayan, hingga penerapan sistem pengelolaan limbah terpadu agar kawasan pasar tetap bersih, sehat, dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Menteri Trenggono menegaskan paradigma pasar ikan di Indonesia harus berubah. Menurutnya, pasar ikan modern tidak boleh lagi identik dengan kondisi kumuh maupun aroma menyengat, melainkan harus menghadirkan lingkungan yang bersih, higienis, nyaman, dan ramah lingkungan.

“Pokoknya tidak boleh bau. Mengelola limbah sampah ikan harus bagus, zero waste. Air limbah masuk ke IPAL, kemudian diolah dan dikeringkan,” tegas Menteri Trenggono.

Ia juga mengapresiasi gagasan Gubernur NTB yang akan memanfaatkan teknologi mesin dryer untuk mengolah limbah ikan menjadi produk bernilai ekonomi.

Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memperkuat hilirisasi sekaligus mewujudkan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Gubernur Iqbal menegaskan pembangunan KNMP Bintaro tidak hanya menghadirkan pasar ikan yang modern, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Menurutnya, seluruh hasil tangkapan nelayan, termasuk limbah ikan, harus dapat dimanfaatkan sehingga menghasilkan nilai tambah dan tidak lagi menjadi persoalan lingkungan.

Sebagai langkah awal, Pemprov NTB akan mengoperasikan mesin dryer untuk mengolah limbah ikan menjadi tepung ikan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak.

“Peternak pasti akan berebut tepung ikan ini ketika sudah diproduksi. Selain menjadi langkah awal menuju zero waste, ini juga menjadi solusi yang saling menguntungkan bagi nelayan dan peternak kita,” ujar Gubernur Iqbal.

Ia menjelaskan, pemanfaatan limbah ikan menjadi tepung ikan merupakan implementasi nyata konsep ekonomi sirkular, di mana setiap bagian hasil perikanan dapat memberikan manfaat ekonomi.

Selain mengurangi pencemaran dan menghilangkan bau di kawasan pasar, inovasi tersebut diyakini mampu membuka peluang usaha baru, memperkuat keterkaitan sektor perikanan dan peternakan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dengan rampungnya pembangunan KNMP Bintaro Tahap II dan dukungan penuh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kawasan tersebut dipersiapkan menjadi model nasional pengembangan pasar ikan modern yang mengintegrasikan hilirisasi industri, pengelolaan lingkungan berbasis zero waste, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sinergi antara pemerintah pusat dan Pemprov NTB diharapkan menjadi fondasi lahirnya ekosistem perikanan yang lebih maju, berdaya saing, ramah lingkungan, serta mampu menghadirkan nilai tambah yang lebih besar bagi kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir.(P02)